GET MONEY OUT OF POLITICS!!!

US-POLITICS-MONEY-PROTEST
Sangat menarik mengikuti gerakan ‘Stamp Money Out of Politics’ yang semakin hari semakin panas di negeri Paman Sam. Saat saya menulis ini, sudah 11.637 cap terjual. Cap keluaran http://www.stampstampede.org/ ini digunakan untuk memberi cap pada uang yang masyarakat umum gunakan sebagai tanda protes kepada ‘money politics’ yang dianggap sudah keterlaluan.

Gerakan yang digawangi oleh Om Ben Cohen pendiri merek es krim terkenal Ben and Jerry ini baru dimulai sekitar bulan Juni 2012 dan telah mendapat dukungan dari 16 negara bagian di US serta dukungan dari Presiden Obama sendiri.

Memahami bahwa sumber dari korupsi di Indonesia adalah ketidakmampuan partai mencari dana bersih sehingga harus menggantung kepada ‘pendapatan’ anggota yg bertugas di MPR/DPR atau di kabinet, serta dari donasi yang umumnya bersifat investasi karena disertai tanggung jawab pengembalian kepada si pemberi, rasanya gerakan seperti ini (apapun bentuknya) harus segera dimulai.

Bersih atau tidaknya negara kita sungguh tergantung dari kebersihan partai yang ada. Dan sudah waktunya rakyat mengambil tindakan seperti ‘Stamp Money Out of Politics’ ini.

I really like the movement that Ben Cohen started.
As much as his ice cream of course :)

3 days with Pak Sumijo the coffee farmer

Pak Sumijo

A couple weeks ago I got a rare opportunity to spend a few days with Pak Sumijo, a coffee farmer from Mount Merapi, Jogjakarta, Central Java. I first met him about two months ago when my gourmand friend Lisa invite me and hubby to visit his plantation and we had a wonderful coffee conversation with him. It was also Lisa’s idea to have a coffee cupping event at our Warung Kopi Sruput and invite Pak Sumijo to Jakarta as the guest star.

Day 1

So here I was standing in front of the arrival gate and happy to know that he didn’t get any trouble on-flight knowing that the last time he flew was around three years ago.

First day was planned to welcome Pak Sumijo at our coffee shop and have a taste on his ‘new’ robusta while having a discussion for tomorrow’s event. It was Friday and heavy rain. A deadly combination for Jakarta traffic. It took us 4,5 hours to drive from the airport to Kemang area where Warung Kopi Sruput is located. Somewhere between conversation and sleep, Pak Sumijo asked a bluntly honest question. “Bu, is the people in Jakarta has meetings in cars? because they spend such a long time in cars due to traffic”. Bitter laugh I said,” Yes Pak Sumijo, it’s a good idea to run meetings in cars”

When we finally arrived at Warung Kopi Sruput, Pak Sumijo had a tasting session to try his ‘old’ robusta and ‘new’ robusta. The new robusta was the one that the process had been assisted by Lisa right from the harvesting time. I could honestly see Pak Sumijo’s face changed when he taste his own coffee. He knew his hard work had paid.

We sent Pak Sumijo to his guest house later that night feeling happy and proud.

Day 2

The second day was the D-day. Not knowing on how many guest would came, Pak Sumijo came early and sat nicely close to the coffee bar. When guests arrived, then more guest arrived, Pak Sumijo seems startled. I was fun for me to see his reaction. After coffee cupping and Lisa ran a presentation about robusta Merapi, it was time for Pak Sumijo to share his own story. Simple yet touching, the guest was moved by his words. A generous applause end his beautiful speech.

At the end of the day, Pak Sumijo told me another honest statement, ” I felt like I had a surprise wedding ceremony”

I was also very happy to know that he liked the new packaging design of Kopi Merapi. My personal pride that I’ve worked for weeks with my design team. What could be a better way to end the journey than a new packaging for a new coffee.

Day 3

It was the last day and it was time for Pak Sumijo to go home.  We had a short conversation and he told me how he would love to share this experience to his fellow farmers. And he hopes that he can inspire other farmers to work harder for a better quality coffee. Not knowing that at the same time, this 3 days I spend with him, had inspire me to do more than what I believe I could do.

 

 

And the last thing I want to teach my kids, is how to be competitive.

Hari Anak Nasional

Beberapa hari yang lalu, saya dapet hadiah buku tentang ‘self confidence’. Walaupun saya sudah merasa cukup percaya diri, gak ada salahnya kan dibaca. Ternyata buku karya Robert Anthony ini jauh dari kata membosankan.

Salah satu pembahasan yang menarik adalah mengenai kompetisi. Jelas sekali salah satu tujuan pendidikan di Indonesia adalah untuk menghasilkan orang-orang yang berdaya saing tinggi. Ternyata pendapat Om Robert ini justru sangat berbeda jika dibandingkan dengan visi pendidikan nasional kita. Berikut cuplikannya.

COMPETITION – THE KILLER OF CREATIVITY

All forms of competition are hostile. They may seem friendly on the surface, but the prime motivation is to be or do “better than” the next person. However, you were placed on this earth to create, not to compete. So if competition is used as your basic motivation to do anything, it will literally conspire against you and defeat you every time. What we’re saying is that the purpose of life is to BE, not to compete. As one teacher puts it, “I am for me, not against anyone!”

Although it may appear that the world is a competitive place, it is only competitive to those who feel the need to compete. Most people will reject this idea because of their childhood training where competition was highly promoted and endorsed. If you ask them if they think competition is healthy, they will reply, with great enthusiasm, that it is not only healthy, but necessary! They feel that it gives life meaning, purpose and direction; that a person needs a reward for doing a “good job”. It never occurs to them that the reward is in the doing and not in the end result.

We compete with others only when we are unsure of ourselves and of our abilities. Competition is merely imitation. It originates in early childhood from our need to copy others. The competitive person feels that others are better than he and sets out to prove otherwise. He struggles to surpass those he feels are superior. In effect, he is always comparing himself to people around him. The competitive person always needs someone else to validate how well he is doing.

The self-reliant individual, on the other hand, does not feel the need to compete. He does not need to look and see what others are doing or be “better than” the next person. Recognising his capabilities for what they are, he strives for excellence in his own life. The only competition is with himself; to achieve greater personal growth and excellence in what he desire to accomplish.

Sejujurnya saya setuju sekali dengan pendapat beliau. Yang saya harapkan sebenarnya sangat sederhana. Saya ingin agar anak-anak bahagia karena bermanfaat bagi orang lain dan tumbuh menjadi yang terbaik dari dirinya.

Selamat Hari Anak Indonesia :)

 

 

Dikutip dari buku: “Total Self Confident” karya Dr. Robert Anthony

 

It is always right to make the right choice

Tough Decisions Ahead Road Sign

“What’s beautiful about choice, is that it gives meaning to everything we do. It is the only thing that enables us to go from who we are today to who we want to be tomorrow.”  - Sheena Iyengar, The Art of Choosing

Kemarin jelas bukan hari yang biasa. Pagi dimulai dengan ribetnya urusan perijinan dan birokrasi (atau birocrazy, whatever you might call it). Sampai pada satu titik dimana kami harus membuat keputusan apakah kita akan berlanjut ke ‘birocrazy war’ atau mengalah dan membuat keputusan yang benar.

Satu hal mengenai ‘membuat keputusan yang benar’ adalah, semua keputusan yang benar selalu datang dengan konsekuensi yang tidak menyenangkan dalam jangka pendek. Baik itu berarti ada tambahan biaya, ada tambahan waktu alias keterlambatan, dimarahin klien, tambah capek dan ribet (pastinya yaa..), atau konsekuensi pahit lainnya. Selain pahit, membuat pilihan yang benar biasanya lebih sulit dan lambat. Oleh sebab itu di jaman yang serba instan dimana teman-teman entrepreneur harus cepat terlihat sukses, pilihan ini jarang diambil. Sehingga tidak heran kalau usaha yang sudah stabil dan baik banyak yang tumbang karena ulah pemiliknya.

Sekitar seminggu yang lalu seorang teman pernah men’cap’ kami sebagai kaum konservatif dalam menjalankan usaha. Saya tidak tahu apakah ini pujian atau sindiran, tapi kelihatannya dia benar. Pada akhirnya kami memilih mengalah dari pertempuran birokrasi ini dan membuat keputusan yang benar tapi pahit tadi.

Namun sejujurnya, saya jarang menyesal di kemudian hari atas pilihan-pilihan pahit di masa lalu. Pilihan-pilihan inilah yang membawa kami pada posisi saat ini. Yang pasti pilihan-pilihan pahit ini yang selalu menciptakan akhir yang bahagia.

Seperti kata partner usaha yang merangkap suami saya, “It is always right to make the right choice.”

19 Juli 2013, MB

Kerja dulu, baru jadi entrepreneur!

Saat ini, semangat entrepreneurship di kalangan muda kelihatannya sedang tinggi-tingginya. Menjadi pengusaha dipandang sebagai sesuatu yang keren dan bahkan menjadi semacam kompetisi diantara teman-teman kuliah. Tapi ternyata, hal ini juga menyebabkan banyak sekali fresh graduate yang tanpa berbekal pengalaman bekerja sama sekali, dengan semangat juang wirausaha, langsung terjun bebas dan meng-klaim dirinya sebagai pengusaha muda. Bahkan saya pernah mendengar pernyataan yang mengatakan bahwa, membuat lamaran pekerjaan ke perusahaan itu sesuatu yang ‘gak banget’.

Tanpa bermaksud merusak semangat juang wirausaha teman-teman, ada beberapa hal yang perlu diluruskan mengenai ‘bayangan’ menjadi entrepreneur ini.

1. Menjadi karyawan itu tidak hina.

“Not everyone should be an entrepreneur”

Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa tidak setiap orang harus menjadi pengusaha. Jiwa entrepreneur bisa dipupuk serta dikembangkan dalam perusahaan tempat kita bekerja. Saya yakin bahwa karyawan yang memiliki jiwa entrepreneur, atau biasa disebut dengan intrapreneur, lebih cepat mendaki jenjang karirnya dan menjadi pemimpin perusahaan pada usia muda.

Dan bagi teman-teman yang yakin bahwa dirinya adalah (calon) pengusaha, memulai hidup sebagai karyawan dan mandiri secara finansial tentunya lebih mulia daripada mengemis-ngemis minta modal kepada orang tua. Banyak contoh kasus dimana teman-teman calon pengusaha yang hidup berhemat menabung gaji bulanan yang mereka terima untuk modal awal usahanya. Tentunya mereka membuat target kerja, bahwa dalam kurun waktu tertentu mereka akan mengundurkan diri dari perusahaan tempat mereka bekerja untuk memulai usahanya. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan mampu menjadikan mantan ‘boss’nya sebagai investor. Hebat kan?

2. Belajar bekerja.

“The best way to learn is by doing”

Saya ingat bulan-bulan awal saya bekerja, saya harus belajar memahami apa yang disebut dengan ‘petty cash’, depresiasi, dan istilah-istilah keuangan lainnya yang memang tidak diajarkan di sekolah desain.

Dengan bekerja sebagai karyawan, kita bisa belajar bagaimana caranya menjual, membuat serta mempresentasikan proposal, membuat perhitungan keuangan, membuat rencana proyek, menjaga hubungan baik dengan klien/customer, mengelola staf, serta seribu satu ilmu lainnya yang tidak diajarkan saat kita di sekolah.

Keseluruhan pengetahuan inilah yang akan membantu kita terhindar dari keterpurukan saat kita menjadi pengusaha. Berapa banyak pengusaha muda yang terpaksa gulung tikar di lima tahun pertama usahanya karena salah pengelolaan keuangan atau pengelolaan operasional.

3. Dari butik menjadi industri.

“Everybody start small”

Semua usaha umumnya dimulai dengan ukuran kecil. Satu cabang, satu klien, satu proyek kecil, yang kemudian kita harapkan berkembang menjadi banyak cabang, banyak klien serta banyak proyek besar.

Namun bisa kita lihat banyak usaha dari teman-teman kita yang kemudian tidak mampu dikembangkan menjadi skala yang lebih besar. Dalam beberapa kasus, memang rekan-rekan entrepreneur ini secara sadar memilih untuk tetap menjadi boutique. Namun tentu berbeda dengan rekan-rekan yang bersemangat untuk membesarkan usahanya.

Bekerja pada perusahaan besar akan memberi dampak positif bagi mereka yang mau belajar. Sistem kerja pada perusahaan besar, apalagi perusahaan multinasional, akan memberikan pengetahuan dasar yang kuat mengenai sistem pengelolaan perusahaan besar. Oleh sebab itu, banyak pengusaha ‘alumni’ perusahaan besar yang mampu mengembangkan usahanya dari tingkat UKM menjadi tingkat industri.

Tips:

Pilihlah perusahaan yang memiliki banyak kemiripan dengan usaha yang kita cita-citakan. Pelajari dan pahami keseluruhan sistemnya walaupun kita hanya bekerja di salah satu bagiannya.

Kesimpulan:

Bekerja sebagai karyawan memberikan pengalaman serta pengetahuan yang akan menjadi dasar/pondasi yang kuat saat kita memulai usaha. Oleh sebab itu, jadikan 3-8 tahun pertama setelah kita lulus sebagai masa belajar lanjutan, yang tentunya berbeda dengan pelajaran saat kita di sekolah.

Semoga sharing diatas bisa bermanfaat bagi teman-teman yang akan nyemplung menjadi pengusaha :)

MB

foto courtesy of getbusymedia.com

 

The Indescribably Incredible Indonesia

I love the title…. Not because I wrote it and it makes a rhyme, but because of the story behind why these words pops-up in my head.

It all started months ago when I was seating on a state dinner with one of the ambassador of Indonesia and surrounded by delegates from other countries. I must say, in the beginning, the conversation was a bit awkward until it comes to a discussion about food. Yep, don’t we all just love food…. So things are getting warmed up  and everybody started to share about their country culinary uniqueness. After other delegation shared about their culinary excitement, they finally asked, “what’s the special food of Indonesia?” Ouch……

It was a bless that Pak Madja, our beloved ambassador, didn’t mention any food’s name. Instead, he said, “we have more than eighteen thousand islands, each with different culture”…..and more explanation that I didn’t remember detail. But the point is, Indonesia has so many culture and many kinds of local cuisine. And I believe choosing one to ten cuisine to represent Indonesia can leads to misconception about the true Indonesian culinary.

Weeks later, over a discussion about nation branding, one question arise. “Can we use food as one of the locomotive of a nation brand?”. I strongly believe it can! I would say Japan did it and Spain done it so well. And I know Korea has been wildly promoting its’ cuisine (and likely to succeed like that Gangnam dance, whew…..). So if Indonesian food can lead the nation branding, what food should represent it?

Over hearing the ‘hot’ discussion at the Ministry of Tourism about what local cuisine should represent Indonesia, I believe none of any region would give up their local cuisine and did not named as one of Indonesia national cuisine. We could really start a ‘food war’ over this matter. So how to solve this problem?

I think one way to stop the food-war is, we should just change the question. Instead of asking what local food deserve to be named as national cuisine, let’s try to see it from other angle. What similarity that resemble all of this local cuisine? How about the strong feels of the seasoning? Aren’t all of these local cuisine use a lot of spices and seasonings? How about the word ‘flavor’, ‘tasty’ and ‘spicy’? Can we use those terms to unite all the local cuisine and use it as the tag line of Indonesian cuisine?. ‘Flavorous Indonesia’ can be cute. Of course there should be a deeper discussion over this matter. But my point is, like any book, we should be able to let other knows about the whole content with only few words, which is the title. And this is the real homework for the people who cares about Indonesian culinary. To find a simple term that tells all about Indonesian cuisine, from Sabang to Merauke.

It’s never easy to unite such a huge nation like Indonesia. But I believe by trying to discover the similar values, we can create a strong nation branding. Our ancestor did it with Pancasila.

Going back to the state dinner that I had, after explained about the eighteen-thousands-islands-of -Indonesia, one of other country delegation said: “Wow, you guys live in paradise!”. Well, thinking about all the super yummy Indonesian cuisine, I do believe I’m in paradise  :)

 

pic from: http://0.tqn.com/d/geography/1/0/m/J/indonesia.jpg

 

Merdeka! Lalu…….? (Alasan kenapa perjuangan untuk merdeka jauh lebih menarik dari perjuangan untuk mengisi kemerdekaan).

Merdeka atau Mati!

Begitulah pilihan yang ada saat bangsa kita, Indonesia, berjuang untuk kemerdekaan di tahun 1945. Sungguh sebuah slogan yang jenius. Selain karena berirama (ryme), pilihannya pun jelas. Hanya ada dua. Yang satu pilihan yang baik dan yang lainnya pilihan yang buruk. Sebuah pilihan tanpa pilihan.

Dalam salah satu buku  yang saya baca ”Bagaimana Mengurus Balita” (mohon maklum yaa, saya kan ibu-ibu), ada salah satu tips yang selalu saya ingat. Yaitu, saat kita memberikan pilihan kepada balita, batasi hanya dengan dua pilihan. Contoh: “mau pakai baju yang merah atau yang biru?”. Mencoba memberikan pilihan yang luas kepada balita, contohnya seperti: “mau pakai baju yang mana?”, dapat berakhir dengan mimpi buruk.

Memiliki pilihan yang terbatas mungkin memang lebih baik daripada memiliki ‘segudang’ pilihan. Dalam bukunya “The Art of Choosing”, Profesor Sheena Iyengar menyatakan bahwa, “walaupun secara teori memiliki banyak pilihan itu menyenangkan, namun pada kenyataannya, orang yang diberikan banyak pilihan justru menjadi ‘lemah’.”

“Seeking the perfect choice, even in big decisions like colleges, “is a recipe for misery,” -Professor Barri Schwartz 

Setelah bangsa Indonesia merdeka dan mulai berkembang, pilihan untuk mengisi kemerdekaan tidak lagi berorientasi kebangsaan namun menjadi (sangat) personal. Bangsa Indonesia dengan dua ratus juta penduduknya, masing-masing memiliki pilihan untuk maju sendiri-sendiri. Jika dilihat dari teori profesor Iyengar, banyaknya pilihan bagi masing-masing orang ini bisa menimbulkan rasa ‘galau’ dan beresiko menumbuhkembangkan ‘Generasi Galau’ yang dapat mengarah kepada ‘Galau Nasional’.

Tentunya akan jauh lebih mudah jika pemerintah membuat slogan dengan pilihan sejelas slogan kita  ”Merdeka atau Mati” dahulu. Misalnya: “Menjadi tuan rumah olimpiade atau Mati”. Atau bisa juga, “Menjadi pemenang dalam Piala Dunia atau Mati”. Bayangkan, saat kita semua (dua ratus juta jiwa) tidak diberikan pilihan kecuali menjadi pemenang pada Piala Dunia, sudah pasti kita akan menjadi pemenangnya. Namun saat ini saya belum yakin pihak pemerintah mampu menciptakan visi, membuat slogan serta menggerakkan rakyat untuk satu tujuan yang jelas. Menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk memilih pemimpin berikutnya yang tidak ‘galau’. (uhuk…)

Namun tanpa adanya campur tangan pemerintah, dalam beberapa kasus klaim dari negara tetangga atas budaya bangsa kita beberapa waktu yang lalu, ternyata memberikan efek yang cukup positif. Semakin hari semakin banyak generasi muda yang kembali mengumandangkan semangat kebangsaan melalui keahliannya masing-masing. Sehingga jika kita kembali ke teori mengenai pilihan, saat ini generasi muda memiliki berjuta pilihan untuk maju dan berkarya. Namun jika tidak disertai konteks atau tujuan yang jelas hanya akan menghasilkan manusia-manusia ‘galau’ yang egois. Oleh sebab itu, konteks kebangsaan dan nasionalisme ternyata masih sangat sesuai untuk dijadikan tujuan bersama saat ini.

Memiliki banyak pilihan untuk maju, namun dengan tujuan kebangsaan yang sama, ternyata dapat membuat perjuangan mengisi kemerdekaan ini menjadi jauh lebih menarik.

Dirgahayu ke 67, Indonesia!  Maju terus, Pantang galau! :)

 

Perjalanan menuju Sukses

 

Melihat sketsa Demetri Martin mengenai sukses diatas sungguh membuat saya tersenyum sambil berkata dalam hati, “setujuuuuuu….”

Tidak tahu berapa banyak orang  yang ingin berhasil tapi lupa (atau memang belum tahu) bahwa setiap kesuksesan butuh (banyaaaaak….) pengorbanan.

Satu hal yang pasti, jalan menuju sukses tidak akan pernah lurus. Jalan menuju sukses penuh dengan tikungan yang bisa disebut dengan hambatan. Lalu akan banyak tanjakan yang bisa diartikan dengan tantangan. Terkadang, kita harus berputar ke tempat yang sama alias harus mulai lagi dari nol (ouch!..). Belum lagi perjalanan kita akan selalu disertai rambu-rambu penuh kewaspadaan yang biasanya datang dari pihak keluarga.

Dalam menempuh perjalanan menuju sukses, alangkah baiknya jika kita mengajak teman. Teman yang baik akan bergandengan tangan dan saling membantu saat perjalanan menjadi sulit. Memilih teman setia dalam menuju sukses bersama ini sungguh tidak mudah. Minimal, mereka harus memiliki tujuan yang sama dan tidak mudah tergoda untuk berubah arah saat ada tujuan lain yang ‘kelihatannya’ lebih menggoda. Bahkan kita bisa saja menemukan bahwa teman seperjalanan kita ternyata (sengaja ataupun tidak) membuat kita tersasar atau bahkan mogok. Atau dengan santai meninggalkan kita saat kendaraan kita mogok (cape deehhh..). Namun, walaupun tidak mudah mencari teman yang tepat, saya tetap menyarankan untuk terus mencari. Saat menemukan teman perjalanan yang tepat, umumnya sukses akan lebih mudah dicapai (dan mungkin juga lebih cepat).

Dari keseluruhan perjalan menuju sukses yang penuh dengan keribetan ini, ada satu hal yang paling penting untuk dilakukan. Yaitu, untuk selalu berani mengambil langkah pertama.  :)

 

Apakah Bisnis Frozen Yoghurt di Indonesia Masih ‘Cool’?

Apakah business Frozen Yoghurt di Indonesia mazih ‘cool’ ?

Yoghurt sebenarnya bukan hal baru di pasar Indonesia. Banyak brand-brand lokal pemain lama seperti yoghurt cisangkuy dari bandung yang sudah ada dari jaman ayah ibu kita pacaran.

Namun, berbeda dengan yoghurt dalam bentuk minuman, kebangkitan frozen yoghurt yang bentuknya seperti ice cream ini sebenarnya berawal dari negri paman sam dimana masyarakatnya yang sangat mencintai ice cream mulai sadar akan kesehatan. Frozen yoghurt atau biasa disebut fro-yo, menjadi pilihan dessert yang lebih sehat dan langsung mendapat hati di pasar amerika yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia termasuk juga ke Indonesia.

Sour sally adalah brand frozen yoghurt yang pertama kali berani menjajal pasar Indonesia dengan investasi serta persiapan branding yang baik. Dengan antrian panjang serta revenue yang menggiurkan, hanya dalam satu tahun muncul beberapa brand saingan. Bahkan JCo yang selama ini focus pada produk donat langsung ikut terjun dalam manisnya bisnis frozen yoghurt ini.

Dalam waktu hanya dua tahun bisnis yoghurt di Indonesia langsung terasa sesak. Hampir disetiap pojok mall ada saja outlet yoghurt yang baru dibuka. Tidak hanya outlet franchise namun tumbuh outlet-outlet brand tunggal yang menjual yoghurt dengan rasa yang sama namun tentu dengan harga hampir setengah dari yang branded.

Satu hal yang menjadi kelemahan bisnis frozen yoghurt adalah bahwa siapapun bisa menjual produk yang sama dengan yang branded mengingat bahwa produk frozen yoghurt semua adalah factory made. Sehingga siapapun yang ingin memulai bisnis frozen yoghurt tinggal berinvestasi di mesin pembuatnya serta mencari suplier yang tepat dan bisa langsung memulai bisnis ini dengan modal yang tidak terlalu besar.

Kesuksesan Sour Sally adalah contoh kesuksesan branding pada bisnis retail melihat bahwa produknya sangat awam. Bergantung hanya pada branding tanpa didukung product reasearch and development adalah jebakan bisnis khususnya di 3-5 tahun pertama. Untuk terus melenggang ke tahun kesepuluh dan seterusnya, sebuah bisnis tidak mungkin bisa maju tanpa didukung produk-produk baru yang tentunya harus berbeda dengan pesaingnya. Beberapa brand frozen yoghurtseperti HeavenlyBlush dengan sangat cermat menilik pasar yoghurt minum botolan yang saat ini sudah banyak beredar di beberapa supermarket besar.

Melihat ke tahun-tahun kedepan rasanya bisnis frozen yoghurt tetap akan ramai namun hanya berupa brand-brand tunggal atau franchise lokal indonesia dengan harga jual yang tidak setinggi branded fro-yo. Sedangkan untuk branded fro-yo tetap akan berjalan namun terfokus hanya pada mal- mal besar. Dan tentu tidak semanis tahun pertama.

Sama seperti saat demam emas terjadi di amerika, orang yang paling mengambil keuntungan adalah si pembuat dan penjual sekop. Dalam bisnis frozen yoghurt tentunya yang paling mendapat keuntungan adalah suplier mesin serta bahannya.

(written for www.merekindonesia.com)